kelapa itu.... yaah kelapa disela-sela jalan
perjuangan darul ishlah. telah tumbuh menghijau besar dan indah. dimata kita
itulah yang tampak. tapi tahukah kita....?? bahwasanya yang berjasa pada pohon
kelapa itu ialah akarnya...! siang malam berganti, ia tetap terjun dan larut
dalam genangan air darul ishlah dan tandus tanahnya. hanya demi memberikan yang
terbaik bagi pohon, daun, dan buah kelapa, meski ia tak tampak di pelupuk mata
kita.
Seperti itulah sang penanam pohon kelapa, tak
tampak tapi karyanya memberikan arti dan tujuan tersendiri. apakah kita ingat
siapa yang menanam..? kayaknya banyak yang lupa atau memang tidak pernah
terbersit dalam hati kita, kalau ada seseorang yang menanam nya. tapi itulah
akar, yang sifatnya berkorban tampa pamrih dari kita semua, yang ada hanyalah
demi kalimat laa ilaaha illallah.
Yaa..
! hanya kalimat itu yang jadi motivasi mereka, meski nama mereka tak
tertuliskan dalam lembaran-lembaran kertas. namun tekad perjuangannya terukir
dalam hati kita semua.
masih
ingatkah kita kemenangan Shalahuddin Al-ayyubi, keperkasaan Alexander the great
(dzul qarnain), keberanian khalid bin walid, kekuatan Kahar Muzakkar dalam
menentang kezaliman dan ketidak adilan......?????
Siapakah
yang menang, perkasa, berani, dan kuat dalam suka duka perjuangan...?? apakah
para pemimpin itu sendiri yang memenangkan pergulatan perjuangan itu..!?
tidak.. sekali lagi tidak..!! tapi ketahuilah,,! bahwasanya dialah generasi
para pemimpin itu. pemimpin besar takkan besar tampa akar yang kuat, tegar dan
tabah dalam perjuangan.
Dan
memang seperti itulah serdadu muslim, senantiasa kuat dan saling menguatkan
seperti yang disebutkan pada akhir ayat al-fath :
كزرع
أخرج شطئها فئازره
فاستغلظ فاستوى على
سوقه يعجب الزراع
ليغيظ بهم الكفار"
Artinya
: “seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan
tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya,
tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang yang ingkar”
Dan hari ini.. akan kita coba
menitik jalan terjal dan tanah cadasnya perjuangan, yang telah ditanamkan
kepada kita oleh para finalis-finalis kompetisi pergolakan antara kebenaran dan
kebatilan.
Betul...!! kita bukanlah seperti
mereka, tapi satu hal yang harus kita ingat. bahwa sejarah akan terulang dengan
aktor yang berbeda dalam sebuah kompetisi. bukankah imam Abu Hanifah berkata “hum
rijaal wa nahnu rijaal”.
Kepedihan yang kita rasakan
dalam melewati bebatuan perjuangan, memanglah tidak mudah tuk mendapatkan buah
kemenangan. tapi ingatlah...! akan ada air di sela-sela bebatuan perjuangan dan
pengorbanan kita, yang menemani hingga finis pada titik terakhir nafas kita.
dan akan berlanjut lagi setelah kita.
Kini.. akar akar itu tumbuh
dalam benak kita, dalam azam kita, dan kita catat pada cita-cita kita bersama,
bahwasanya kita kita adalah akar yang selalu ada dalam barisan depan. Air mata,
dana, dan darah jadi taruhan kebenaran, demi tegaknya syariat dalam diri,
keluarga, dan masyarakat kita semua. Sehingga nantinya kita bisa bersua dan
bergembira bersama di tepi-tepi telaga rasulullah sallallahu alaihi wa
sallam dan para tamu Allah subhanahu wa ta’ala yang di muliakan.
amiin ya rabb
Hifdzan_idan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar