Minggu, 19 Oktober 2014

ledaknya potensi

Tahun 2006 di bulan juni entah hari apa yang jelas salah satu harinya ada angka yang membuat dada ini degdegan tercantum juga di sehelai kertas dengan nilai yang sangat memuaskan, tapi salah satu dari kami namanya belum tercantum, sehingga kami berempat tidak tega memperlihatkan rasa senang dan gembira ria. dengan hati yang tulus kami berikan support  kalau ini bukan akhir dari segala - segalanya.

Bertepatan dengan hasil yang memadai pada hari itu, guru matematika yang tulus mengajar kami  memilih saya mewakili sekolah kami untuk ikut lomba mipa tingkat smp sekabupaten minggu depan, rasanya mustahil saya bisa mengharumkan sekolah kami, bagaimana tidak kalau sekolah kami kata orang-orang tidak punya masa depan, guru kami cuman lima orang itupun kalau beliau-beliau sempat, jumlah kami di kelas cuman tujuh siswa, pokoknya kekurangan itu komplit untuk mematikan potensi ini.

Guru matematika saya berpesan sebelum beliau ke tempat yang jauh dari kami karena di sana beliau sangat lebih dibutuhkan " jangan pikirkan kekurangan tapi bergeraklah sekarang dan jangan lepas dari enam jilid buku matematika yang saya berikan hingga kamu faham dan hafal semuanya, selamat berjuang dan sukses selalu " seakan ada sesuatu yang sudah lama di dalam dada meledak berapi-api.

Enam jilid dalam seminggu, sangat dead line tapi potensi dan semangat ini sudah terlanjur terbakar. Piala dunia terlewatkan selama seminggu, benak saya bilang kalau mengharumkan pondok itu lebih penting daripada piala dunia 2006. diruang televisi sangat seru dengan aksi aksi para pemain sepakbola, sedangkan saya sangat menikmati pelajaran dengan semangat yang menggebu gebu. Beginilah seharusnya kita harus dengan niat yang tulus dan cita cita yang tinggi kedepan tampa dipalingkan dengan persimpangan kesenangan.


#belum selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar