Kelaparan Di Musim Bubur
|
Setoran hafalan berakhir bertepatan dengan cahaya menembus-nembus
ruangan masjid yang dindingnya dari gamacca. Ku langkahkan kaki yang lunglai
entah karena apa, mungkin karena kelamaan sholat lail ataukah keram kerana
duduk lama demi kejar setoran. Tapi saya yakin pagi ini kayaknya kaki ini
lunglai sebab ada penghuni isi perut ini sedang memohon atau bisa disebut
mendemo bahkan anarkis untuk sebuah ketahanan pangan.
Satu langkah dua langkah kulangkahkan kaki ini dengan dorongan
aspirasi perut yang suaranya lantang menggugat untuk sesuap nasi di pagi ini.
Di depan pintu masjid sebelah Utara, kuarahkan pandangan lurus kedepan ku
dapati pagar yang menghalangi pandangan, berharap disana ada rejeki pandangan
pertama, ternyata oh ternyata dua menit mata ini mejelajah, kali ini rejeki
itu belum juga muncul.
Empat puluh lima derajat ku arahkan pandanganku dari arah lurus
kedepan pintu utara masjid mengarah ke atas rumah pimpinan, berharap di
panggil entah harapan itu apa? Tapi yang jelas 75% harapan itu hanya mengabulkan
unjuk rasa perut yang kian memaksa. Teryata diatas sana panutan kami
Anregurutta sedang membaca atau mengaji atau bisa saja disana ada hurun tin
sedang mangngolo. Lagi lagi tak ada secangkir teh atau sesuap nasi di langkah
pertama keluar dari masjid ini.
Tapi bukan namanya pemimpin kalau tidak mengabulkan tuntutan dan
tanggung jawab terhadap desakan-desakan yang sudah klimaks. Bermodalkan data
deduktif atau teori islam bahwa jangan tidur kalau pagi tapi carilah karunia
ilahi insyallah menjadi motivasi untuk bersegera mencari sebab-sebab karunia
itu datang.
Dari langkah pertama dan kedua ku lewati masjid dan rumah
panggung Anregurutta, ku lihat disisi sebelah rumah itu ada banyak kayu yang
siap di dikotomi menjadi dua onggokan yang simetris beserta banci-banci yang
menancap diatasnya.
Terus melangkah dan kini di depan usrah satu yang didalamnya di
huni oleh salah satu suku di kampus. wkwkkw Entah didalam asrama itu ada apa?
Coba-coba masuk berharap ada pembagian sembako atau menciduk kue di balik
lemari hahah. Eh ternyata lagi rame-rame sarapan bubur. "Hem bisa minta
sedikit? Sedikitmo kasiaaan...? Assala ada isi perutku ini e..?" Ini e
ambimi sisaku, cuci nanti itu rantang nah?" "Alhamdulillaaah...
terima kasi nah? Klu soal cuci beres mi itu yg penting ada".
Biarlah sisa asalkan memberikan manfaat dan tenaga. Toh itu
rejeki jangan ditolak. Hari ini sedikit, kita diajarkan bersyukur dan
bersabar agar kelak kita mampu bertahan digelimangan harta dan dunia
seisinya.
Kuteruskan langkah ke kamar sebelahnya. Kudapati jejeran lemari
yang besar-besar dan kenapa masih ada kelambu yang tergantung, sepertinya ada
yang lagi menggambar peta diatas bantal. Dan memang betul. Mungkin lebih
memilih tidur itu sunnah bagi yang puasa. Tapi kamar ini sepi kemana yang
lain di?.
Seperti satpol PP yang mengejar PKL di setiap sudut kota, habis
semua kamar dijejaki. Dan ada banyak data induktif yang bisa disimpulkan.
Desetiap kamar ada kebanyakan rantang2 yg belum dicuci, kelambu yg sepertinya
ada serigala yang mengoyak-ngoyak tadi subuh, talinya ada yg putus dan masih
ada yang terpasang di paku, ada yang menulis alquran persiapan tafsir ba'da
duhur, ada juga yang berkhutbah sendiri layaknya didepan orang banyak, tapi
anehnya hampir disetiap kamar ada tahfidz I yang mondar mandir layaknya kuli
atau buruh yang diperintah sama mandor-mandor.
Hubungan antara perutku lapar, inflasi ekonomi santri, tahfidz I
sana-sini, kurangnya penghuni kamar memberikan kesimpulan kalau ada keramaian
di belakan asrama. Cek ricek ternyata disini dibelakan asrama ada pusat bubur
ala santri, dan bubur mereka bermacam-macam. Ada bubur manado, bubur mie ubi,
bubur gula merah, bubur kacang, bubur santan dan yang paling rendah bubur
asin saja.
Waw cepat-cepat kekamar ku ambil mangkok dan seakan-akan menjadi
tim juri yang sewena-wena mencicipi dan menilai karya masakan lelaki
pujaannya dibalik pagar bambu. Entah apa dibenak para kompetitor masakan
aneka rasa bubur, ada rasa malu dan hina tapi apalah daya demi rakyatku yang
ada pada anggota tubuhku ini akan ku tempuh apapun itu asalkan halalun
tayyibun.
Setelah syabi'tu bergegas
ke hammam. Ternyata di hamman juga ada persaingan ketat.
~ To be countinue ~
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar